Tempo Doeloe

Sepeda motor kelas menengah dengan mesin 200 cc silinder tunggal ini, menjadi favorit untuk dimodifikasi menjadi bentuk motor Chopper atau klasik ala Harley Davidson, dan sampai sekarang pun masih banyak penggemarnya.

Adalah Mukti Ahmad salah seorang mahasiswa semester dua ini terpikat dengan Binter Merzy untuk dimodifikasi motor bergaya klasik. “Selain punya ukuran mesin yang bongsor, part mudah dicari bila ada kerusakan. Gak bikin repot,” ujar Mukti yang berniat modif bergaya sepedah tempo doeloe alias klasik.

Lantas untuk idenya sendiri, pria yang juga beuki futsall ini mengaku mendapat inspirasi dari desain sepeda kumbang. Selain itu, ia juga menambah referensi dari seringnya membaca buku-buku modifikasi dan internet.

Gak nunggu lama ide pun dikasih sang builder yang bermarkas di Jl. Wiranta Gang Sukamaju. Akhirnya sang modifikator termangguk tanda menyanggupi.

“Biasanya customer yang datang diajak ngobrol secara intens dulu, keinginannya seperti apa, lalu dibuat sketsanya, nah kira-kira seperti itulah motornya nanti. Kalo dia oke, baru mulai digarap”, ulas pemilik rumah modifikasi Monoz Custom tentang proses kerjanya.

Pertama, jelas rancangan sasis kaku layaknya rangka sepeda dan pemakaian ban depan belakang lingkar 21 inci yang tak lazim. Lalu bagaimana pengaplikasiannya? Pembuatan sasis ini memang hal yang menciptakan kepusingan tersendiri. Maka, harus orang-orang yang punya perhitungan teliti yang bisa melakukan ini.

“Mulai dari tinggi dan panjang motor harus sesuai, karena ini butuh penyesuaian dengan besar mesin Merzy dan lingkar ban 21 inci agar seimbang,” jelas akang yang akrab dibanggil kang Monoz.

Tapi diantara itu ada yang unik, yah suspensi depan. Untuk suspensi dibuatkan model Cangkrang layaknya garpu sepeda heubeul. Bukan hanya sasis dan suspensi depan saja yang model baheula. Asesoris lainnya seperti jok kulit model lawas serta tas kulit diboncengan belakang dipercaya agar kesan klasik mencuat dari motor ini. Tak hanya seru sampai disitu saja, desain knalpot sirip hiu juga cukup membuat agak seram ditampang klasik ini.

“Dibuat freeflow agar kesan garang didapat, apa lagi model sirip hiu cukup memperkuat karakter itu,” ujar Mukti yang menginginkan kesan garang dimotor hijau klasiknya. Satu hal yang pasti, motor harus tetap fungsional namun tetap nyaman diajak turing dan enggak cuma jadi pajangan. Yogo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: